Efek Kebebasan Semu Media Massa Terhadap Pesta Demokrasi (Fitri Rismayanti*)

Bagikan

Pemilihan  para  pemimpin  di  Indonesia  selalu  membawa  ueforia  tersendiri. Yang  apatis  menjadi  sok  mengkritisi,  yang peduli  membela  idealisme  masing  – masing. Tak   jarang  pemilihan  pemimpin  di Indonesia   menjadi  perang  tak – tik stategi  untuk  mendapatkan  kekuasaan  yang menarik  untuk  di simak.  Rakyat  Indonesia  yang  masih  menikmati  kebebasaannya dalam berpendapat  hingga  lupa  mempertimbangkan logika dalam  memilih. Dengan  kondisi  Pemilihan  umum  yang  diadakan  secara  serentak  akan  menjadikan  panggung   politik  Indonesia   semakin ramai saja.  Proses  kampanye  yang  selalu  menarik  untuk  disimak  , menjadikan  media  massa  tempat  untuk  mewadahi  hampir  seluruh  proses kampanye.  Salah satunya  dalam debat   politik  para  pasangan  calon. Debat  politik  menjadi  menarik  diperbincangkan  saat  kedua  pasangan  calon  mencoba  memaparkan  program   dan  saling  adu argument  untuk  setiap  kebijakan  yang  mereka  buat  sebelum  menjadi kandidat  sampai  kebijakan  yang  akan  diajukan  selanjutnya.  Masyakarat  yang  terkadang  tidak  bisa  tenang  dalam  menyikapi  debat – debat  panas  para  kandidat  akan terbawa  suasana  menjadi  panas  tersebut  kekehidupan  masyarakat. Itulah  mengapa  pesta  demokrasi  selalu  menarik. Pesta  demokrasi  yang  diselengarakan  untuk  menjadikan kehidupan  rakyat menjadi  lebih  baik,  juga  punya  kekuaatan  untuk  memecah  belah  rakyat  dalam  negara  tersebut.

Ares Cuba’s artwork (Courtesy of irancartoon.com)

Indonesia  dikenal  dengan  segala  keberagamannya.  Keberagaman  suku  sampai keberagaman  gaya kepemimpinan di setiap  pergantian  presiden. Tidak heran  jika  hampir  segala  bentuk   kepemimpinan  telah dilalui  masyarakat  Indonesia. Kepemimpinan  yang  tertutup untuk  memudahkan  mengatur  dasar  –  dasar  negara  ala  Soekarno  sampai  kepemipinan  yang  merakyat  ala  Jokowi . Lalu,  menjadi  menarik  ketika  kita  berbicara hak  rakyat  dalam  setiap  keputusan  negara. Masing  –  masing periode  kepemimpian  pun  mempunyai  cara  pemilihan  yang  berbeda –  beda.   Salah satu  contohnya, saat  Kepemimpinan   Soeharto ,Indonesia  sangat  amat otoriter.  Selama  32  tahun  Indonesia  di  pimpin  dari  satu  komando saja  yaitu, Soeharto. Oleh karena  itu pemelihan umum pun  mendapat  hasil  yang  sama berulang  –  ulang  kali. Demokrasi  menjadi  begitu  semu.  Rakyat  tidak  memiliki  kebebasan  yang  penuh ,  tidak  ada  ruang  untuk  memberi  pendapat  dan kritikan. Sehingga  rakyat  menuntut  kebebasan, salah  satunya  melalui media.  Negara  pun  memberikan  kebebasaan  untuk  rakyat  bersuara  melalui  media  massa.  Namun, seiring  berjalannya  waktu  media  massa   yang  seharusnya  menjadi  wadah  untuk  aspirasi  rakyat  justru  menjadi  permainan  politik  yang  canggih  oleh  para  elit. Kurangnya  perhatian  negara  terhadap  media  menjadikan  penguasa  elit   terlalu kuat  untuk membentuk  opini publik. Dalam  pesta  demokrasi  media  pun  mengalami  perubahan  tiap masa, mulai  dari  hanya  sekedar  menanyangkan  iklan  yang  berisis  visi  misi  kandidat,  mengadakan  talkshow  bersama kandidat, sampai  debat  program  antar kandidat.

Pesta  demokrasi  biasa  akan  memiliki  pemanasan  terlebih dahulu  melalui  pemilihan  kepala  daerah.  Dalam  waktu  dekat  ini,  pilihan  gubenur  serentak  di Indonesia  akan segera  dilaksanakan.  Namun,mari kita kilas  balik  pada  masa  –  masa  kampanye  melalui debat  politik.  debat  politik  menjadi  hal  yang bisa  mempengaruhi  opini  masyarakat.  Opini  tersebut  dapat  mempengaruhi  perilaku  masyarakat  dalam  menentukan  pilihannya  nanti.  Media  massa masih  mengalami  kebebasan  semu  dalam  artian  media  massa  mungkin  sudah  tidak  dikomando  oleh  negara, namun media  massa  menjadi  milik  para  elit  politik.  Kebebasan  media  yang  masih  semu membuat  pemberitaan  yang cenderung membela  salah  satu  pihak. Bias antara  netral  dan  tidak  menjadi  sangat  tipis.  Sehingga kebebasan  semu  yang  di  alami  media kita   menjadi  rawan untuk  pesta  demokrasi atau pemilihan  pemimpin  di  Indonesia.  Pertama,  kepemilikan  media  yang  mudah  menjadikan  media  massa di kuasai  oleh  para  elit  bisnis  dan  politik. Kedua,  kepemilikan tersebut  akan  menjadikan  kekuasaan  dalam  mengarahkan opini  publik  melalui  media.  Ketiga, masyarakat  Indonesia  yang  masih  mudah  terpancing  oleh  isu  akan  dapat  menimbulkan  perpecahan. Sehingga  media  massa  sadar  atau  tidak  akan  mempengaruhi   pesta  demokrasi  atau  bahkan  dapat  menimbulkan  perpecahaan  dalam  pencarian  pemimpin  tersebut.  Alangkah    lebih  baiknya  jika  negara  pun  memandang  bahwa  kepemilikan media  massa bukanlah hal  yang sepele.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga angkatan 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *