Pemberdayaan Masyarakat Desa Melalui Program Budi Daya Jamur Tiram Sebagai Makan Sehat dan Mengurangi Penyebab Pemanasan Global (Hermawan*)

Bagikan

ABSTRAK

Banyak program atau proyek pembangunan desa tidak berjalan optimal, karena kebanyakan di rencanakan jauh dari desa. Masyarakat masih dianggap sebagai obyek/sasaran yang akan dibangun. Hubungan yang terbangun adalah pemerintah sebagai subyek/pelaku pembangunan dan masyarakat desa sebagai obyek/sasaran pembangunan. Partisipasi yang ada masih sebatas pemanfaatan hasil. Tingkat partisipasi dalam pembangunan masih terbatas, misalnya masih sebatas peran serta secara fisik tampa berperan secara luas sejak dari perencanaan sampai evalusasi. Pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni yang bersifat “people-centered, participatory, empowering, and sustainable. Gagasan pembangunan yang mengutamakan pemberdayaan masyarakat perlu untuk dipahami sebagai suatu proses transformasi dalam hubungan sosial, ekonomi, budaya, dan politik masyarakat. Salah satu program pemberdayaan masyarakat desa yang dinilai mampu memberikan kontribusi dalam jangka panjang adalah melalui pendekatan dan pembelajaran komunitas melalui kelompok atau organisasi. Strategi pendekatan dan pembelajaran komunitas pada masyarakat desa selama ini jarang disentuh. Padahal kita tahu bahwa melalui pendekatan dan pembelajaran komunitas tepatnya melalui pembelajaran kelompok bagi masyarakat desa tersebut, akan memiliki potensi mampukan masyarakat di dalam memecahkan problematika hidup yang selama ini mereka hadapi. budidaya jamur tiram bisa menjadi alternatif kegiatan dalam program pemberdayaan masyarakat desa. Kegiatan Budidaya Jamur Tiram akan melibatkan masyarakat mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai pemanfaatan hasil. Tahapan dari kegiatan budidaya jamur tiram cukup panjang. Mulai dari penyediaan bibit jamur, pembuatan rumah jamur, perawatan atau budidaya, penjualan hasil panen jamur tiram sampai kepada mengolah jamur tiram menjadi beragam olahan makanan. Ini tentunya akan melibatkan lebih banyak masyarakat dan bisa menyrap banyak tenaga kerja. Masyarakat yang terlibat tidak secara individu tetapi dalam satu kelompok atau komunitas. Sehingga kegiatan tersebut diarahkan menjadi kegiatan komunitas.

 

BAB I

Pendahauluan

  • Latar Belakang

Desa memegang peranan yang penting karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan hakikatnya bersinergi terhadap pembangunan daerah dan nasional. Hal tersebut terlihat banyaknya program pembangunan yang di rancang pemerintah untuk pembangunan desa. Hampir seluruh instansi, terutama pemerintah daerah mengakomodir pembangunan desa dalam program kerjanya. Meskipun demikian, pembangunan desa masih memiliki berbagai permasalahan, seperti adanya desa terpencil atau terisolir, masih minimnya prasarana sosial ekonomi serta penyebaran jumlah tenaga kerja produktif yang tidak seimbang, termasuk tingkat produktifitas, tingkat pendapatan masyarakat dan tingkat pendidikan yang relatif masih rendah.[1]

Banyak program atau proyek pembangunan desa tidak berjalan optimal, karena kebanyakan di rencanakan jauh dari desa.[2] Masyarakat masih dianggap sebagai obyek/sasaran yang akan dibangun. Hubungan yang terbangun adalah pemerintah sebagai subyek/pelaku pembangunan dan masyarakat desa sebagai obyek/sasaran pembangunan.[3] Partisipasi yang ada masih sebatas pemanfaatan hasil. Tingkat partisipasi dalam pembangunan masih terbatas, misalnya masih sebatas peran serta secara fisik tampa berperan secara luas sejak dari perencanaan sampai evalusasi.

Oleh kerena itu program pemberdayaan desa adalah program yang melibatkan masyarakat secara aktif mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pemanfataan hasil. Satu program yang bisa menjadi alternatif adalah budidaya jamur tiram. Program ini relatif mudah dan murah. Budidaya jamur tiram tidak hanya untuk daerah dataran tinggi yang dingin, tetapi juga bisa dilakukan di dataran rendah dan di dekat pantai sekalipun. Dan bisa dikembangkan sebagai kegiatan komunitas. Hal ini yang penting, karena beberapa kajian menyebutkan program berbasis komunitas lebih berhasil.

Jamur tiram adalah makanan sehat yang bisa menjadi alternatif pengganti daging. Kandunga gizi jamur tiram tidak kalah dengan bahan makanan lainnya. Rasanya yang gurih seperti daging ayam menyebabkan jamur tiram bisa diolah sebagai makanan pengganti daging. Permintaan pasar jamur tiram juga terus meningkat. Bahkan permintaan pasar luar negeri  cukup tinggi dan peluangnya sangat besar.[4]

Berdasarkan kajian FAO (2010) penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar adalah kegiatan peternakan yaitu 18%. Sedangkan kegiatan transportasi hanya 13%.  Secara logika, upaya mengurangi emisi gas rumah kaca adalah dengan mengurangi konsumsi daging. Dengan adanya pengganti daging diharapkan bisa mengurangi emisi gas rumah kaca yang dapat menyebabkan pemanasan global.[5]

Jamur tiram mengandung gizi yang tidak kalah dengan bahan makanan lain. Jamur tiram mengandung asam amino yang sangat dibutuhkan tubuh. Lemak tak jenuh yang terkandung dalam jamur tiram sangat dibutuhkan tubuh manusia. Selain itu, jamur tiram merupakan makanan yang berserat tinggi. Melihat kandungan gizi dari jamur tiram, maka jamur tiram bisa menjadi alternatif makanan sehat bagi masyarakat.[6]

  • Rumusan Masalah

Dalam makalah ini akan dibahas tentang pemanasan global, budidaya jamur tiram serta tentang pemberdayaan masyarakat. Selanjutnya juga akan dibahas kaitan program pemberdayaan masyaraat desa dengan kegiatan budidaya jamur tiram.

  • Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini disusun sebagai syarat untuk mengikuit seleksi sebagai co-fasilitator dalam program pelatihan Kepala Desa yang dilakukan Center for Security and Welfare Studies Fakultas Ilmu Sosal dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Tujuan penulisan makalah ini adalah memberi informai tentang program alternatif dalam upaya pemberdayaan masyarakat  desa. Budidaya Jamur Tiram bisa menjadi alternatif program pemberdayaan masyarakat desa melalui. Kegiatan ini juga merupakan aksi nyata dalam upaya mengurangi dampak dari pemanasan global. Budidaya jamur Tiram juga bisa menjadi kegiatan ekonomi rakyat dan bisa dikembangkan di desa sehingga program bisa berkelanjutan.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.   Pemanasan Global

Pemanasan global atau Global warming adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi.[7] Temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.18°C selaa seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca. Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.[8]

Beberapa penyebab pemanasan global adalah eefek rumah kaca, efek umpan balik dan varian matahari. Berikut adalah penjelasan tentang penyebab pemanasan global tersebut.  Sumber energi di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek. Ketika energi ini mengenai Bumi akan berubah dari cahaya menjadi panas. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar.[9]

Namun akibat adanya gas rumah kaca seperti uap air, CO2, Methan, Nitrogenoksida, sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer. Gas-gas menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Sebenarnya, gas rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpa gas rumah kaca, planet ini akan menjadi sangat dingin. Sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.[10]

Efek-efek balik dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air.[11]

Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat. Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.

Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan.

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.

Ada hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.[12]

Beberapa dampak dari pemanasan global mulai dirasakan belakangan ini. Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.[13]

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan.

Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.[14]

Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut.

Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm pada abad ke-21. Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan.[15]

Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Contohnya di Bagian Selatan Kanada, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tinggiiya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh.

Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.[16]

Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.[17]

2.2.   Budidaya Jamur Tiram

Budidaya jamur merupakan salah satu budidaya yang tidak mengenal musim dan tidak membutuhkan tempat yang luas.Jenis-jenis jamur yang umum dibudidayakan ialah jamur merang (Volvariella volvaceae), jamur tiram (Pleurotus ostreatus), jamur kuping (Auricularia polytricha), jamur payung (Lentinus edodes) dan jamur kancing (Agaricus Sp).  Ari beberapa jenis jamur tersebut adalah jamur tiram yang cukup populer di tengah masyarakat Indonesia. Pada umumnya jamur tiram dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Namun sebagian orang menjalankan bisnis olahan jamur tiram misalnya berbentuk keripik jamur tiram, jamur krispik atau produk olahan lainna. Jamur tiram adalah jenis jamur kayu yang memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur kayu lainnya[18].

Budidaya jamur tiram memiliki beberapa keunggulan dan kemudahan dalam proses budidayanya sehingga dapat dikelola sebagai usaha sampingan ataupun usaha ekonomis skala kecil, menengah dan besar (Industri). Negara-negara yang telah mengembangkan budidaya jamur tiram sebagai agrobisnis andalan dan unggulan adalah Cina, belanda, Spanyol, Prancis, Belgia dan Thailand. Negara-negara tersebut trermasuk produsen jamur terbesar di dunia.

Jamur Tiram adalah salah satu alternatif sebagai daging.  Dalam klasifikasi botani jamur tiram bernama pleurotus. Selama ini yang lebih dikenal hanya jamur tiram putih, padahal  sebenarnya ada beberapa jenis jamur tiram yang bisa dibudidayakan[19], yaitu :

  1. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus), dikenal juga dengan nama shimeji white (varietas florida). Warna tubuh buahnya putih atau putih kekuningan dengan diameter 3-14 cm.
  2. Jamur tiram biru ( Pleurotus ostreatus columbinus). Warna tudungnya biru keunguan, tudung berukuran kecil dan tubuh buah besar dan kaku. diameter antara 4-6 cm
  3. Jamur tiram coklat (Pleurotus cystidiosus), dikenal dengan nama jamur abalon. Warna tudungnya keabu abuan sampai abu abu kecoklatan. Diameternya antara 5-12 cm.
  4. Jamur tiram abu abu (Pleurotus Sajorcaju), dikenal dengan shimeji grey karena tudung berwarna abu kecoklatan sampai kuning kehitaman dengan diameter 6-14 cm.
  5. Jamur tiram merah/ pink (Pleurotus flabellatus), dikenal dengan nama sakura karena tudungnya berwarna kemerahan. Diameter antara 5-12 cm.

Diantara jenis jamur tiram yang dibudidayakan, Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) adalah jenis paling digemari petani karena memiliki sifat yang adaptif dan tahan lama penyimpanan, selain juga karena sudah memasyarakat. Jenis jamur lainnya kurang popular di Indonesia karena warnanya yang mencolok dan terkesan aneh memberi kesan jamur beracun, hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat.

Jamur tiram tumbuh pada serbuk kayu, khususnya yang memiliki serat lunak seperti jenis kayu albasiah. Suhu optimum untuk pertumbuhan tubuh buah jamur tiram adalah 20 – 28°C, dengan kelembaban 80 – 90 %. Pertumbuhan jamur tiram membutuhkan cahaya matahari tidak langsung, aliran udara yang baik, dan tempat yang bersih. Jamur tiram putih merupakan salah satu jamur kayu yang sangat baik untuk dikonsumsi manusia. Selain karena memiliki cita rasa yang khas, jamur tiram putih juga memiliki nilai gizi yang tinggi. Jamur tiram banyak mengandung protein, air, kalori, karbohidrat, dan sisanya berupa serat zat besi, kalsium, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C.[20]

Kandungan gizi jamur tiram menurut Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian Republik Indonesia sebagai berikut: protein rata-rata 3.5 – 4 % dari berat basah. Jamur tiram putih juga mengandung 9 macam asam amino yaitu lisin, metionin, triptofan, threonin, valin, leusin, isoleusin, histidin, dan fenilalanin. Sedangkan 72% lemak dalam jamur tiram adalah asam lemak tidak jenuh sehingga aman dikonsumsi baik yang menderita kelebihan kolesterol maupun gangguan metabolisme lipid lainnya. Hampir 28% asam lemak jenuh serta adanya semacam polisakarida kitin di dalam jamur tiram yang diduga menimbulkan rasa enak.

Jamur tiram putih mengandung protein sebanyak 19 – 35 % dari berat kering jamur, dan karbohidrat sebanyak 46,6 – 81,8 %.  Bila dibandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya 18,2 gram, lemaknya 25,0 gram, namun karbohidratnya 0,0 gram, maka kandungan gizi jamur masih lebih lengkap sehingga tidak salah apabila dikatakan jamur merupakan bahan pangan masa depan.

Banyak orang yang mengkonsumsi jamur tiram secara rutin membuktikan bahwa jamur ini dapat menghancurkan sel kanker. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa jamur tiram juga memiliki kadar protein tinggi sehingga sangat baik untuk nutrisi penambah kesehatan tubuh. Kaum vegetarian banyak yang mencari jenis jamur ini, mereka menjadikan jamur tiram sebagai makanan pengganti daging karena rasanya yang mirip daging ayam. Para pemilik restoran maupun usaha makanan juga banyak yang memanfaatkan jamur tiram sebagai bahan utama masakan mereka.

Secara umum jamur tiram putih diketahui memiliki beberapa manfaat, yaitu antara lain:  dapat menurunkan tingkat kolesterol dalam darah, Memiliki kandungan serat mulai 7,4 % sampai 24,6% yang sangat baik bagi pencernaan, Antitumor, antioksidan dan lain-lain.5

Budidaya jamur tiram putih di Indonesia masih tergolong baru. Budidaya jamur tiram mulai dirintis dan diperkenalkan kepada para petani terutama di Cisarua, Lembang, Jawa Barat pada tahun 1988, dan pada waktu itu petani dan pengusaha jamur tiram masih sangat sedikit.  Sekitar tahun 1995, para petani di kawasan Cisarua, yang semula merupakan petani bunga, peternak ayam dan sapi mulai beralih menjadi petani jamur tiram meski masih dalam skala rumah tangga.

Budidaya jamur tiram memiliki prospek ekonomi yang  baik. Jamur tiram merupakan salah satu produk komersial dan dapat dikembangkan dengan teknik yang sederhana. Bahan baku yang dibutuhkan tergolong bahan yang murah dan mudah diperoleh seperti serbuk gergaji, dedak dan kapur, sementara proses budidaya sendiri tidak membutuhkan berbagai pestisida atau bahan kimia lainnya. Budidaya jamur tiram memiliki prospek ekonomi yang baik. [21]

Pasar jamur tiram yang telah jelas serta permintaan pasar yang selalu tinggi memudahkan para pembudidaya memasarkan hasil produksi jamur tiram. Belakangan ini, bisnis jamur tiram semakin berkembang dan populer. Hal ini disebabkan karena mudahnya cara budidaya jamur tiram, harga jual yang relatif stabil dan permintaan pasar yang meningkat secara terus-menerus merupakan faktor penyebab munculnya banyak petani jamur tiram. Penampilan fisiknya yang putih bersih merupakan daya tarik tersendiri, sedangkan rasanya juga sangat enak, mirip dengan rasa daging ayam.12

2.3.   Pemberdayaan Masyarakat Desa

Kata “empowerment” dan “empower” diterjemahkan dalam bahasa indonesia menjadi pemberdayaan dan memberdayakan, menurut merriam webster dan oxfort english dictionery mengandung dua pengertian yaitu : pertama adalah to give power or authority to, dan kedua berarti to give ability to or enable. dalam pengertian pertama diartikan sebagai memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain. Sedangkan dalam pengertian kedua, diartikan sebagai upaya untuk memberikan kemampuan atau keberdayaan.[22]

konsep empowerment pada dasarnya adalah upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi semakin efektif secara struktural, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, negara, regional, internasional, maupun dalam bidang politik, ekonomi dan lain-lain. Memberdayakan masyarakat menurut kartasasmita (1996) adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. [23]

Pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni yang bersifat “people-centered, participatory, empowering, and sustainable. Gagasan pembangunan yang mengutamakan pemberdayaan masyarakat perlu untuk dipahami sebagai suatu proses transformasi dalam hubungan sosial, ekonomi, budaya, dan politik masyarakat. perubahan struktur yang sangat diharapkan adalah proses yang berlangsung secara alamiah, yaitu yang menghasilkan dan harus dapat dinikmati bersama. Begitu pula sebaliknya, yang menikmati haruslah yang menghasilkan. Proses ini diarahkan agar setiap upaya pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan kapasitas masyarakat melalui penciptaan akumulasi modal yang bersumber dari surplus yang dihasilkan, yang mana pada gilirannya nanti dapat pula menciptakan pendapatan yang akhirnya dinikmati oleh seluruh rakyat. dan proses transpormasi ini harus dapat digerakan sendiri oleh masyarakat.

Menurut Sumodiningrat (1999), bahwa kebijaksanaan pemberdayaan masyarakat secara umum dapat dipilah dalam tiga kelompok yaitu : pertama, kebijaksanaan yang secara tidak langsung mengarah pada sasaran tetapi memberikan dasar tercapainya suasana yang mendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat. kedua, kebijaksanaan yang secara langsung mengarah pada peningkatan kegiatan ekonomi kelompok sasaran. ketiga, kebijaksanaan khusus yang menjangkau masyarakat miskin melalui upaya khusus.

Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, menurut kartasasmita (1996), harus dilakukan melalui beberapa kegiatan : pertama, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Kedua, memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat (empowering). Ketiga, memberdayakan mengandung pula arti melindungi. Di sinilah letak titik tolaknya yaitu bahwa pengenalan setiap manusia, setiap anggota masyarkat, memiliki suatu potensi yang selalu dapat terus dikembangkan. Artinya, tidak ada masyarakat yang sama sekali tidak berdaya, karena kalau demikian akan mudah punah.[24]

Pemberdayaan merupakan suatu upaya yang harus diikuti dengan tetap memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh setiap masyarakat. dalam rangka itu pula diperlukan langkah-langkah yang lebih positif selain dari menciptakan iklim dan suasana. perkuatan ini meliputi langkah-langkah nyata dan menyangkut penyediaan berbagai masukan (input) serta membuka akses kepada berbagai peluang (upportunities) yang nantinya dapat membuat masyarakat menjadi semakin berdaya.

Bicara tentang pemberdayaan masyarakat desa, pada dasarnya, serupa dan setara dengan konsep pengembangan masyarakat (community development). Perkembangan teori pembangunan desa dimulai dengan praktek, yaitu dari kebutuhan yang dirasakan di dalam masyarakat terutama dalam situasi sosial yang dihadapi di dalam negara – negara yang menghadapi perubahan sosial yang cepat.[25] Dari sudut padang teoritis perihal pemberdayaan bagi masyarakat desa secara umum sangat bergantung pada dua hal yaitu diri masyarakat itu sendiri dan intervensi dari kekuatan ekternal yaitu kekuatan yang ada di luar dari diri masyarakat. Kekuatan yang ada pada masyarakat desa berkaitan dengan potensi yang dimiliki oleh masyarakat tersebut misalnya motivasi, keterampilan, kebutuhan, pengetahuan, sikap mental, dan sebagainya. sedangkan kekuatan yang berasal dari luar dirinya terkait dengan adanya bantuan atau stimulus yang mendorong mereka untuk lebih berdaya antara lain bantuan uang, bantuan alat dan sarana prasarana, kemampuan beradaptasi, kemampuan organisasi dan sebagainya.

Kecenderungan dari pelaksanaan pemberdayaan yang selama ini dilakukan, baik oleh pihak pemerintah, pihak swasta ataupun oleh pihak-pihak lainnya lebih menekankan dan menitikberatkan kepada program charity (sumbangan, bantuan dan amal) contoh program bantuan langsung tunai oleh pemerintah, bantuan sarana prasarana, bantuan lahan dan perumahan dan sebagainya. Pemberdayaan dalam bentuk charity umumnya hanya bersifat sementara dan cenderung selalu mengalami kegagalan. Kenyataannya yang bersifat charity tersebut hanya akan membantu masyarakat hanya sebentar saja, setelah bantuan tersebut habis maka masyarakat desa akan kembali menjadi miskin dan tidak berdaya.[26]

Pembangunan wilayah pedesaan mengandung kompleksitas yang tinggi dengan melihat beberapa aspek yang diukur dalam keberhasilan pembangunan tersebut. Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana untuk melaksanakan perubahan–perubahan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan perbaikan mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat untuk jangka panjang, yang dilaksanakan oleh pemerintah yang didukung oleh masyarakatnya, dengan menggunakan tehnologi yang terpilih.

Salah satu program pemberdayaan masyarakat desa yang dinilai mampu memberikan kontribusi dalam jangka panjang adalah melalui pendekatan dan pembelajaran komunitas melalui kelompok atau organisasi. Strategi pendekatan dan pembelajaran komunitas pada masyarakat desa selama ini jarang disentuh. Padahal kita tahu bahwa melalui pendekatan dan pembelajaran komunitas tepatnya melalui pembelajaran kelompok bagi masyarakat desa tersebut, akan memiliki potensi mampukan masyarakat di dalam memecahkan problematika hidup yang selama ini mereka hadapi.

Istilah komunitas dalam hal ini merujuk pada warga – warga sebuah desa, kota, suku atau suku bangsa. Soekanto (2000) menyatakan bahwa masyarakat merupakan suatu kelompok baik besar maupun kecil yang anggotanya hidup bersama sedemikian rupa sehingga mereka merasakan bahwa kelompok tersebut dapat memebuhi kepentingan – kepentingan hidup yang utama.17  Kriteria yang utama bagi adanya suatu masyarakat adalah adanya social relationship antara anggota – anggota kelompok tersebut.  Asumsi yang dibangun adalah melalui penguatan komunitas yang tinggi dan stabil akan lebih menciptakan kemandirian bagi masyarakat desa. melalui penguatan komunitas program pemberdayaan bagi masyarakat desa tersebut akan lebih terencana, terprogram dan memiliki tingkat efektivitas yang tinggi. hal yang terpenting dalan penguatan komunitas tersebut bahwa dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program pemberdayaan tersebut di lakukan secara mandiri oleh kelompok-kelompok masyarakat tersebut.

Adapun pihak di luar masyarakat hanya dibutuhkan sebagai pendamping serta turut mengarahkan pembuatan kebijakan yang berpihak kepada pembangunan komunitas tersebut. dalam mengimplementasikan proses pembangunan desa berbasis komunitas, diperlukan adanya sesnsitivitas masyarakat desa di dalam menilai kondisi desanya masing – masing. Pada awalnya setiap anggota masyarakat desa diharapkan mampu menilai dan mengevaluasi setiap kondisi baik secara fisik maupun non fisik desa. ketika pada elemen tertentu terdapat hambatan-hambatan, maka dengan sesegera mungkin dilakukan perbaikan-perbaikan.[27]

 

BAB III

PEMBAHASAN

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang menerangkan nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma basis pembangunan yang bersifat people centered, participatory, empowering dan sustainable. Dari definisi tersebut jelas bahwa pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep yang lebih luas daripada hanya sekedar pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Pemberdayaan masyarakat lebih diartikan sebagai upaya menjadikan manusia sebagi sumber, pelaku dan yang menikmati hasil pembangunan. Secara konkrit, pemberdayaan masyarakat diupayakan melalui pembangunan ekonomi rakyat. Sementara itu, pembangunan ekonomi rakyat harus diawali dengan usaha pengentasan penduduk dari kemiskinan.[28]

Upaya pemberdayaan masyarakat paling tidak harus mencakup lima hal pokok yaitu bantuan dana sebagai modal usaha, pembangunan prasarana sebagai pendukung pengembangan kegiatan, penyediaan sarana, pelatihan bagi aparat dan masyarakat dan penguatan kelembagaan sosial ekonomi masyarakat seperti bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang suatu saat harus digantikan dengan tabungan yang dihimpun dari surplus usaha[29].

Dari definisi tersebut, maka budidaya jamur tiram bisa menjadi alternatif kegiatan dalam program pemberdayaan masyarakat desa. Kegiatan Budidaya Jamur Tiram akan melibatkan masyarakat mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai pemanfaatan hasil. Tahapan dari kegiatan budidaya jamur tiram cukup panjang. Mulai dari penyediaan bibit jamur, pembuatan rumah jamur, perawatan atau budidaya, penjualan hasil panen jamur tiram sampai kepada mengolah jamur tiram menjadi beragam olahan makanan. Ini tentunya akan melibatkan lebih banyak masyarakat dan bisa menyrap banyak tenaga kerja. Masyarakat yang terlibat tidak secara individu tetapi dalam satu kelompok atau komunitas. Sehingga kegiatan tersebut diarahkan menjadi kegiatan komunitas.

Jamur tiram merupakan makanan sehat sehingga masyarakat tersebut bisa sekaligus menjadi pasar. Ini tentunya akan mampu menggerakan ekonomi rakyat setempat. Selain itu pasar jamur tiram bisa diluar komunitas atau masyarakat. Bahkan bisa menjadi komiditi eksport. Permintaan pasar dalam negeri maupun luar negeri cukup tinggi dan terus meningkat. Prosfek budidaya jamur tiram akan terus meningkat. Karena kecenderungan masyarakat untu mengkonsumsi makanan sehat dan organik[30].

Disisi lain kegiatan budidaya jamur tiram merupakan kegiatan ramah lingkungan. Berdasarkan laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), sektor peternakan sapi, kerbau, domba, kambing, babi, dan unggas menghasilkan emisi gas rumah kaca yang setara dengan 18 persen CO2.  Secara rinci, sektor peternakan menghasilkan 65 persen dinitrogen oksida (NOx) yang berpotensi terhadap pemanasan global  300 kali lebih besar daripada CO2. Dari semua gas methana yang dihasilkan manusia, 37% berasal dari sektor peternakan. Gas metana mempunyai efek pemanasan 23 kali lebih kuat dari CO2 dan jika berada di atmosfer dan bereaksi, gas methana akan mempunyai dampak 72 kali lebih besar dari CO2. Selain itu peternakan juga menghasilkan 64% Amonia yang secara signifikan menghasilkan hujan asam[31].

Peternakan juga telah menjadi penyebab utama dari kerusakan tanah dan polusi air. Saat ini peternakan menggunakan 30% dari permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan untuk menanam makanan ternak. Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira 20 persen dari padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang berlebihan, pemadatan, dan erosi. Peternakan juga bertanggung jawab atas konsumsi dan polusi air yang sangat banyak. Ternak juga menimbulkan limbah biologi berlebihan bagi ekosistem. Selain kerusakan terhadap lingkungan dan ekosistem, tidak sulit untuk menghitung bahwa industri ternak sama sekali tidak hemat energi. Industri ternak memerlukan energi yang berlimpah untuk mengubah ternak menjadi daging di atas meja makan orang. Untuk memproduksi satu kilogram daging, telah menghasilkan emisi karbon dioksida sebanyak 36,4 kilo.7[32]

 

BAB IV

PENUTUP

  1. Pemberdayaan masyarakat desa merupakan sesuatu yang harus segera dilakukan. Melalui pemberdayaan masyarakat desa, akan memberi makna lebih dari pembangunan nasional. Masyarakat akan menjadi pelaku dari kegiatan pemberdayaan tersebut.
  2. Budidaya jamur tiram bisa menjadi alternatif program pemberdayaan masyarakat desa. Program budidaya jamur tiram sebaiknya dilakukan dengan basis komunitas. Dan tahapannya yang panjang akan mampu menyerap banyak tenaga kerja
  3. Program budidaya jamur tiram merupakan kegiatan ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah serbuk kayu dan merupakan satu upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global

 

Daftar Pustaka

http://makalahpemberdayaanmasyarakatdandesa.blogspot.com/ 17 april 2015 21.30

Kartasasmita, Ginandjar, 1996, “Pembangunan Untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataa”:, Jakarta, PT. Pustaka Cisendo.

Korten, David C dan Sjahris, 1998 “Pembangunan Berdimensi Kerakyatan”, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia.

http://www.pemanasanglobal.net/

http://www.miung.com/2013/04/pengertian-dan-cara-mengatasi-global.html

http://berbisnisjamur.com/

http://1jamurtiram.blogspot.com/

http://oemahjamur.blogspot.com/2011_12_01_archive.html

http://sriwahyuwidyaningsih.blogspot.com/2013/08/global-warming.html

http://teoripemberdayaan.blogspot.com/

[1]     http://makalahpemberdayaanmasyarakatdandesa.blogspot.com/

[2]     Korten, David C dan Sjahris, 1998 “Pembangunan Berdimensi Kerakyatan”, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia.

[3]     Kartasasmita, Ginandjar, 1996, “Pembangunan Untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan”:, Jakarta, PT. Pustaka Cisendo.

[4] http://1jamurtiram.blogspot.com/

[5] http://berbisnisjamur.com/

[6] Ibid (5)

[7] http://www.miung.com/2013/04/pengertian-dan-cara-mengatasi-global.html

[8] http://www.pemanasanglobal.net/

[9] Ibid (7)

[10] Ibid (7)

[11] Ibid (8)

[12] Ibid (8)

[13] http://sriwahyuwidyaningsih.blogspot.com/2013/08/global-warming.html 17april2015

[14] Ibid (8)

[15] Ibid (7)

[16] http://www.g-excess.com/pengertian-pemanasan-global-atau-global-warming.html17april2015

[17] ibid

[18] http://1jamurtiram.blogspot.com/

[19] http://oemahjamur.blogspot.com/2011_12_01_archive.html

[20] Ibid 19

[21] Ibid (19)

[22] http://teoripemberdayaan.blogspot.com/17april2015

[23] Ibid (3)

[24]    https://afrizalwszaini.wordpress.com/2011/02/11/pembangunan-pemberdayaan-masyarakat-dalam-perubahan-sosial/17april2015

[25]    http://download.portalgaruda.org/article.php?article=48985&val=4025 17april2015

[26] http://2frameit.blogspot.com/2012/04/pemberdayaan-masyarakat-desa.html17april2015

[27] Ibid (17)

[28] Ibid (3)

[29] Ibid (3)

[30] Ibid (19)

[31] Ibid (8)

[32] Ibid (8)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *