Pemilih Pemula dan Wacana yang Menarik bagi Kaum Milenial (A Faricha Mantika*)

Bagikan

Pemilu akan bergulir pada April 2019 ini. Masa kampanye sudah dimulai semenjak tahun 2018 silam. Banyak isu dan wacana yang digulirkan selama kampanye, mulai dari keberhasilan petahana di bidang ekonomi sampai kepada isu keagamaan yang merupakan keberlanjutan dari Aksi Damai 212. Sebagai salah satu pemilih pemula, penulis kerap mengamati beberapa pembahasan seputar pilpres dari kawan-kawan sesama mahasiswa—di luar maupun dalam kelas. Di media sosial pun, penulis menemui akun-akun pendukung masing-masing pasangan calon yang menyasar anak muda dengan gayanya masing-masing.

 

Menurut data dari KTP-el yang dimiliki Kementerian Dalam Negeri, terdapat sejumlah 5.035.887 orang pemilih pemula yang masuk dalam Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4). DP4 ini telah diserahkan ke KPU dan tak lama berselang, KPU mengumumkan bahwa jumlah pemilih tetap Pemilu 2019 mencapai 192 juta orang. Dengan jumlah yang ‘tak seberapa’ ini, posisi pemilih pemula sama pentingnya dan sama berpengaruhnya terhadap proses penggalangan dukungan dan kampanye masing-masing pasangan calon. Yang tak boleh dilupakan pula, adalah bahwa lebih dari lima juta orang ini adalah para generasi milenial—atau post-millennial, istilah yang ‘sementara’ disematkan oleh Pew Research Center.

Tapi, siapa sebenarnya milenial ini?

Mengacu kepada hasil penelitian dari Pew Research Center yang dilakukan oleh Michael Dimock bahwa milenial adalah generasi yang lahir setelah tahun 1980. Tepatnya antara 1981-1996. Selebihnya, mereka adalah post-millennials atau Generasi Z. Mengambil contoh dari penduduk Amerika, Dimock mengutarakan bahwa beberapa peristiwa (salah satunya 9/11) yang terjadi selama kurun waktu 1980 sampai sekarang menentukan sikap politik mereka. Ditunjang dengan perkembangan teknologi yang pesat, milenial memiliki kemampuan untuk mengakses informasi lebih banyak, dan bahkan beberapa inovasi teknologi masa kini adalah hasil kerja dari milenial.

Untuk kasus di Indonesia, para milenial baru, saya menghadapi apa yang disebut dengan Reformasi dan turunnya Soeharto selama 32 tahun menguasai Indonesia. Dampak dari situasi politik semacam ini adalah banyaknya milenial yang kontra, bahkan anti terhadap militer (karena latarbelakang Soeharto yang pernah di TNI). Tidak jarang kawan saya memiliki kebencian yang mendalam terhadap militer dan berdampak kepada preferensi politiknya. Namun praktek politik adalah permasalahan yang dinamis. Pertanyaan yang mendasar adalah apa yang sebenarnya menjadi ketertarikan milenial dalam kampanye partai politik?

Perpolitikan kalangan milenial ditandai dengan penggunaan media sosial secara masif, baik untuk kampanye ataupun “menghujat”. Salah satu platform yang sering digunakan pemilih pemula dari kalangan milenial adalah instagram. Kawan saya dari salah satu universitas di Malang memahami betul instagram sebagai instrumen kampanye, sehingga tiap hari selalu ada postingan mengenai calon yang ia dukung.

Tidak sekedar foto. Karena milenial lahir dan tumbuh di era perkembangan informasi yang pesat, maka desain dari poster juga menentukan ketertarikan kaum milenial. Gaya poster dan baliho yang disukai oleh kelompok milenial adalah yang bergaya sederhana tapi lugas. Beberapa desain tersebut bisa kita temukan dalam poster yang digunakan oleh beberapa caleg dari PSI (Partai Solidaritas Indonesia) yang mencitrakan dirinya sebagai partai pemuda. Tidak lupa juga bagaimana poster-poster yang digunakan oleh tim sukses Sandiaga Uno juga bergaya milenial.

Milenial cenderung tidak suka sesuatu yang mencolok, sehingga banner atau baliho yang terlalu menggunakan banyak warna dianggap sebagai “norak”. Dari diskusi saya dengan beberapa kawan juga dapat diambil pandangan bahwa milenial tidak suka dengan politik yang berbumbu agama dan cenderung menyudutkan salah satu pihak, namun disisi lain, ada milenial yang sifatnya reaksioner dalam menghadapi sebuah isu mengenai preferensi politiknya.

Milenial juga suka bergurau, jika para pembaca suka memperhatikan akun instagram calon “ketiga”, Nurhadi-Aldo yang penuh gurauan, para pembaca akan melihat baik di bagian Like atau kolom komentar yang didominasi oleh pemilih pemula. Milenial pun tidak sepenuhnya mencerabut dirinya dari hiruk-pikuk bahasan politik, namun lebih suka mengemasnya dengan cara-cara jenaka. Mereka pandai mengedukasi diri tentang politik dengan cara yang unik. Namun, ini lah yang akhirnya perlu jadi PR KPU dan pemerintah ke depannya, dengan melihat trend terkini. Bagaimana agar cara edukasi yang unik khas milenial ini juga dibarengi dengan edukasi berpartisipasi politik secara rasional dan substantif. Tidak hanya saat pemilu tapi juga pasca pemilu dan sehari-hari tanpa menggunakan nuansa represif.

 

* Penulis adalah Mahasiswi S1 Ilmu Politik, FISIP Universitas Airlangga

Referensi 

CNN Indonesia. (2018). KPU: Jumah Pemilih Tetap Pemilu 2019 Capai 192 Juta. Tersedia di: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181215171713-32-353929/kpu-jumlah-pemilih-tetap-pemilu-2019-capai-192-juta. Diakses 4 Januari 2019.

Detik.com. (2018). Ada 5 Juta Pemilih Pemula di Pemilu 2019. Tersedia di: https://news.detik.com/berita/4215354/ada-5-juta-pemilih-pemula-di-pemilu-2019. Diakses 4 Januari 2019.

Dimock, Michael. (2018, 1 March). Defining Generations: Where Millenials End and post-Millenials begin. Pew Research Center. Tersedia di: http://www.pewresearch.org/fact-tank/2018/03/01/defining-generations-where-millennials-end-and-post-millennials-begin/. Diakses 4 Januari 2018.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *