Penelitian Pertanian Lobster Lombok Timur

Bagikan

Salah satu komoditas pangan Indonesia yang semakin berkembang adalah lobster. Perkembangan komoditi lobster di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh tingginya permintaan dalam negeri, tetapi juga terus meningkatnya pasar luar negeri. Di dalam negeri, permintaan lobster terus mengalami lonjakan seiring dengan berkembangnya industri kuliner.

FGD bersama Pengusaha dan Pembudidaya Lobster

Menurut data Kementerian Kelauran dan Perikanan 2018, lobster dalam kelompok udang memang primadona ekspor dari lautan Indonesia. Nilai ekspornya paling tinggi dibanding komoditas perikanan dan kelautan lainnya, mencapai $1.302 juta AS dan berat 147 ribu ton pada kurun Januari hingga September 2018. Udang serta lobster mengalahkan nilai ekspor tuna, cakalang, dan tongkol senilai $499,95 juta AS (seberat 116,91 ribu ton). Rumput laut sebenarnya masuk komoditas ekspor terberat dengan 154,37 ribu ton, tetapi nilai jual tak setinggi udang.

Pada tingkat teknologi yang ada saat ini, usaha pembesaran lobster di Pulau Lombok secara teknis sudah efisien. Dengan Faktor umur, pengalaman, pendidikan dan persepsi pembudidaya terhadap keberlanjutan usaha berpengaruh nyata terhadap inefisiensi usaha pembesaran lobster. Nelayan lobster di Nusa Tenggara Barat pernah mengalami masa kejayaan, termasuk di Telong Elong, Jerowaru, Lombok Timur. Setelah adanya Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2015 tentang larangan penangkapan dan penjualan bibit lobster, kepiting dan rajungan, pendapatan nelayan menurun drastis.

 

CSWS FISIP UNAIR bersama dengan Medco Foundation mengadakan penelitian dengan tajuk “Pemetaan Sosial-Ekonomi Industri Perikanan Lobster” bertempat di Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. Total peneliti yang terlibat sebanyak tujuh orang dengan melibatkan dua orang peneliti lokal. Pelibatan peneliti lokal membantu dalam membuka akses masuk ke dalam komunitas dan mengatasi kendala bahasa. Mengingat sebagian besar daerah Lombok Timur menggunakan bahasa Sasak dalam percakapan sehari-harinya. Waktu penelitian dimulai sejak Oktober sampai November 2019 yang terbagi ke dalam tiga kali gelombang keberangkatan ke lapangan. Reconnaissance dan field research dengan dua kali diadakan FGD. Tahap kegiatan penelitian dimulai dengan pembuatan desain kajian dan studi literasi selanjutnya diakhiri dengan pembuatan laporan kegiatan setelah melewati proses pengolahan data. Dari 15 Desa yang tersebar di Kecamatan Jerowaru, penelitian fokus pada beberapa desa pembudidaya lobster seperti Desa Jerowaru, Desa Telong Elong, Desa Paremas, Desa Seriwe, Desa Ekas Buana dan Desa Batu Nampar Selatan.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, dinamika perekonomian lobster di Jerowaru memberikan dampak yang signifikan dalam perekonomian masyarakat. Oleh kerena itu, guna menguatkan kembali perekonomian masyarakat dan pelaku usaha di Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, diperlukan strategi reinventing nelayan lobster juga dapat menjadi alternatif  penyelesaian masalah sosial-ekonomi terutama pasca pemberlakuan Permen KP 1/2015 dan Permen KP 56/2016.(RKN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *