Penelitian Interdisipliner dalam menyusun Model Pengembangan Masyarakat (FGD dan Workshop bersama LIS-HB UNAIR)

Salah satu tugas penting universitas dalam mengemban tugas Tridharma Perguruan Tinggi adalah melaksanakan penelitian bermuara pada manfaat nyata sesuai dengan perkembangan, dinamika dan pemasalahan yang ada di masyarakat. Perubahan sosial, budaya, ekonomi dan teknologi akibar revolusi digital (4.0) menjadi tantangan dan peluang bagi universitas sebagai institusi pendidikan untuk mengimplementasikan tantangan dan peluang dimaksud.

FGD dan Workshop Riset Interdisipliner (25/11/2020)

Lembaga Ilmu Sosial Humaniora dan Bisnis (LISHB) mengadakan workshop dan FGD Penyusunan Model Pengembangan Masyarakat Melalui Penelitian Inter-Disiplin di Era Industri Digital pada 25 November 2020 bertempat di Gedung Rektorat 301 lantai 3. Acara dua hari yang dikomandani oleh Prof. Dr. Musta’in Mashud berlangsung selama dua hari (25-26/11) berupaya untuk menghasilkan suatu model penelitian bersama yang bermuara pada Model Pengembangan Masyarakat sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat di era digital sekarang ini.

Dalam pemaparannya yang berjudul Keberdayaan Petani dan Keberlanjutan Usaha Tani oleh Muhammad Nuruddin selaku wakil dari Kementerian membahas tentang bagaimana tanggung jawab secara milenial dengan menerapkan agroekologi dengan pendekatan yang ramah lingkungan. Tindakan kolektif yang dikelola oleh BUMDes maupun koperasi. Pemberdayaan masyarakat tidak hanya dalam pengembangan kapasitas perekonomian tapi mengedepankan produktivitas. Mengingat berdasarkan data dari Kementrian Desa di lapangan UMKM lebih pada sektor simpan pinjam. Artinya dari 4000 BUMDes lebih sedikit yang berkonsentrasi pada sektor produktif.

Read more

FGD Sinergi Terpadu Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak di Jawa Timur

Perempuan dan anak tidak hanya dilihat sebagai kelompok rentan dalam kasus kekerasan yang umumnya bersifat domestik, namun juga dalam konteks bencana/konflik sosial. Hal ini menjadi penting untuk dibahas karena Jawa Timur merupakan daerah yang memiliki historis bencana/konflik sosial di beberapa daerahnya. Penanganan bencana/konflik sosial seringkali melupakan bahwa banyak korban perempuan dan anak di dalamnya. Seperti  pengalaman Jawa Timur dalam menangani bencana/konflik sosial Sunni-Syiah yang terjadi di Kabupaten Sampang pada 2012, yang sampai sekarang menyisakan korban perempuan dan anak yang tidak mendapatkan kehidupan yang layak di rumah susun Puspa Agro di Kabupaten Sidoarjo.

Untuk itu, CSWS FISIP UNAIR coba merespon dan menggali lebih dalam terkait problem penanganan bencana/konflik sosial dan kaitannya dengan perempuan dan anak. Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) ini merupakan bagian dari kerjasama CSWS FISIP UNAIR dengan Friedrich Ebert Stiftung (FES) Indonesia dan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Mengusung tema “Sinergi Terpadu Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak di Jawa Timur”. CSWS FISIP UNAIR juga mengundang instansi pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun daerah. Perwakilan instansi di tingkat provinsi meliputi Bakesbangpol, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK), Dinas Sosial, Kanwil Kemenkumham, dan Polda. Di tingkat daerah, CSWS FISIP UNAIR memilih empat kabupaten yang menjadi representasi, yaitu Kabupaten Sidoarjo, Tuban, Blitar, dan Sampang. Instansi daerah yang mewakili meliputi Dinas Sosial, Bakesbangpol, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak setempat.

 

 Kegiatan FGD daring (16/11/2020)

 

Read more