Kekerasan Domestik dan Penanganan Bencana Sosial di Jawa Timur

Bencana sosial hadir tanpa bisa diprediksi sebelumnya. Sebab bencana sosial juga seringkali dilatarbelakangi perbedaan yang kadang tidak nampak, seperti perbedaan pemikiran atau kepentingan yang tidak ditunjukkan, namun tiba-tiba muncul dalam bentuk tindakan pertentangan.  Nyatanya bencana sosial menyisakan luka fisik dan psikis yang lebih berat bagi korbannya daripada bencana alam.

Bukan hanya merenggut harta benda dan nyawa anggota keluarga. Bencana sosial juga merenggut sejumlah hak asasi manusia. Korban bencana sosial kehilangan hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan kenyamanan dan keamanan, hak untuk memperoleh pendidikan, hak untuk memiliki sumber penghasilan, dan sebagainya. Rekonstruksi yang dilakukan pemerintah pun tidak akan bisa sepenuhnya mengganti segala sesuatu yang hilang dari korban.

Perempuan dan anak menjadi pihak yang akan selalu menerima dampak dari setiap konflik. Jangankan menjadi korban konflik sosial, permasalahan domestik juga menjadikan perempuan dan anak seringkali menjadi korban kekerasan dan nasib yang malang. Seperti kasus di Blitar, perempuan migran yang ingin menyejahterakan keluarga, terutama anak-anaknya. Pergi meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah, faktanya anak-anaknya terlantar akibat suami yang tidak mampu mengatur urusan rumah tangga, bahkan ada yang menikah lagi selama istrinya pergi. Berharap pulang membawa modal usaha, malah tabungan habis dan tidak bisa dinikmati. Masalah ekonomi seringkali menjadi pemicu kekerasan domestik.

Wawancara dengan Pak Joko dari Dinsos Prov. Jatim

Read more

Kick-Off Pemetaan Profil dan Upaya Pemerintah untuk Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak

Perempuan dan anak merupakan bagian dari kelompok masyarakat rentan yang seringkali menjadi korban dari beragam konflik dan bencana yang terjadi. Merujuk pada hal ini, upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak masih kurang dilakukan oleh pihak terkait. Minimnya upaya tersebut terlihat dari data Komnas Perempuan pada 2019 terkait kekerasan terhadap perempuan yang mencapai angka 431.471 kasus di Indonesia. Sedangkan angka kekerasan terhadap anak juga semakin meningkat, terhitung sejak 1 Januari-31 Juli 2020 kekerasan terhadap anak perempuan mencapai 3.296 kasus dan kekerasan terhadap anak laki-laki mencapai 1.319 kasus. Kasus kekerasan semakin meningkat karena pandemi COVID-19. Himbauan untuk tetap di rumah atau bekerja dari rumah berpengaruh pada peningkatan kekerasan domestik. Karena masyarakat diharuskan untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sehingga eskalasi konflik yang terjadi di rumah juga semakin bertambah.

Merespon tingginya angka kekerasan yang terjadi pada perempuan dan anak, CSWS FISIP UNAIR yang bekerja sama dengan Friedrich Ebert Stiftung dan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada Senin (2/11) mengawali kegiatan pemetaan profil dan upaya pemerintah untuk pemberdayaan dan perlindungan perempuan dan anak di Jawa Timur. CSWS FISIP UNAIR berkesempatan untuk bertemu dengan perwakilan-perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) di Ruang Rapat Kepala Dinas tersebut. Read more