Kontestasi Ruang Publik Trotoar: Kebijakan Eksistensi Furniture Kota Surabaya

Trotoar adalah ruang publik yang ada di area perkotaan dan memiliki fungsi strategis dari aspek sosial, ekonomi, politik, dan kultural. Trotoar bermakna simbolik sebagai penentu keindahan dan kelayakan kehidupan umum di kota. Trotoar adalah ruang politik, bukan ruang ekonomi seperti sebagai tempat dagang PKL yang dapat menganggu kenyamanan para pengguna jalan terutama pejalan kaki.

Artikel ini menjadi bagian dari Prosiding ICSSH – 2018 yang membahas tentang perubahan politik yang cepat di perkotaan. Kota Surabaya menjadi ajang pembangunan ruang publik yang konsestatif. Persaingan antara pemerintah kota dan kelompok marjinal kota. PKL sebagai kelompok marjinal kota dan furniturisasi sebagai titik masuk untuk pertanyaan yang lebih luas tentang kontestasi ruang publik. Pengendalian ruang publik trotoar dibingkai dalam kebijakan furniturisasi trotoar. Pemasangan bangku tempat duduk permanen dan bola beton menjadikan trotoar menjadikan ruang gerak PKL semakin terbatas. Kebijakan penataan ruang publik trotoar disinergikan dengan kebutuhan riil masyarakat terutama PKL. Pada intinya kebijakan furniturisasi trotoar bukan untuk memperkuat praktik liberalisasi ekonomi kota.

 

Melalui artikel yang berjudul “Ruang Publik Trotoar dan Eksistensi Furnitur Kota: Kontestasi antara Pemkot dan Kelompok Marginal Kota”. Hal khusus yang diangkat oleh Dr. Siti Aminah adalah tentang marginalisasi ruang dan perlawanan kelompok marginal. Kesadaran kelas terbangun namun tidak dapat banyak bergerak karena terkendala relasi kuasa dengan kewenangan yang lebih besar dari pemerintah kota. Kontestasi yang tidak imbang antara pemerintah dengan pedagang kaki lima. Sebuah paradoks terjadi dari seruas trotoar. PKL ingin bertahan hidup dengan berjualan sementara pemerintah kota berupaya memperindah kota dan menegakan peraturan.

Prosiding dari The 2nd International Conference on social Science and Humanities (ICSSH-2018) bertajuk “The Role of Social Science and Humanities to Strengthen Community and Humanities” yang dilaksanakan pada Oktober 2018 di LIPI. Kegiatan ini terbagi dalam lima panelis. Masyarakat pinggiran, Dinamika kependudukan dan globalisasi, Strategi pembangunan manusia yang iklusif dan berdaya saing, Transformasi sosial dan budaya; dan Tantangan globalisasi pada dunia yang mengglobal.

 

One Reply to “Kontestasi Ruang Publik Trotoar: Kebijakan Eksistensi Furniture Kota Surabaya”

  1. LIPI
    PROSIDING
    Deputyship of Social Sciences and Humanities Indonesian Institute of Sciences (IPSK-LIPI)
    THE 2ND INTERNATIONAL CONFERENCE ON SOCIAL SCIENCES AND HUMANITIES (ICSSH-2018)
    “THE ROLE OF SOCIAL SCIENCES AND HUMANITIES TO STRENGTHEN COMMUNITY RESILIENCE WITHIN GLOBAL NEXUS”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *